Rabu, 05 Desember 2007

FREE SOFTWARE

Apa itu Athenaeum Light?


Kata "Athenaeum" diambil dari bahasa Yunani, yang artinya perpustakaan atau reading room. Nama ini digunakan oleh Sumware Consulting, NZ untuk nama produk perangkat lunak "gratisan" yang mereka buat.
Versi Light, adalah versi sederhana dan merupakan potongan dari versi yang lebih lengkap Athenaeum Pro (tidak gratis). Sekalipun aplikasi ini adalah gratisan dan sekedar potongan perangkat lunak untuk tujuan promosi. Nampaknya fitur-fitur dalam Athenaeum Light, masih sangat menarik untuk dipakai sebagai salah satu program otomasi perpustakaan secara sederhana.
Selain menyuguhkan fasilitas untuk mengemas pangkalan data buku (collections), aplikasi ini juga meracik menu-menu peminjaman dan laporan serta memberi peluangkan untuk dikembangkan untuk mengelola database multimedia dalam berbagai format.
Fasiltas lain seperti pembuatan label barcode, statistik dan stock opname yang disediakan, menjadi nilai tambah tersendiri, dan mungkin jarang bisa dijumpai pada aplikasi gratisan lain.
Athenaeum, dibangun dari Database Software Filemaker Pro 6.0 (www.filemaker.com ). Sebuah perangkat lunak untuk mengelola data (work group) dengan operasi sangat mudah dan sederhana. Kemudahan yang diberikan Filemaker telah menobatkannya sebagai software yang "paling mudah digunakan, versi Majalah PC World 2004 Codie Award 2005 Kemudahannya pula yang memberi peluang pada banyak orang (non programer) mampu untuk meng otak-atik bahkan membuat sendiri aplikasi sesuai dengan kebutuhan.
Athenaeum light 6.0, dikemas secara free script, artinya code atau formula didalamnya tidak ditutup oleh pembuatnya. Hal ini memudahkan para pemakainya untuk memperbaiki, memodifikasi, tampilan field, bahasa, relasi data sesuai kebutuhan.


Apa itu igloo?
Igloo adalah aplikasi berbasis web untuk meng-online-kan Database ISIS (CDS/ISIS dan WinISIS) ke media web. Igloo dibuat menggunakan PHP Scripting language ( www.php.net) dan PHP-OpenISIS sebagai backend untuk membaca database natif ISIS.
PHP-OpenISIS merupakan port OpenISIS ke PHP dalam bentuk extension. OpenISIS itu sendiri merupakan command-line tool untuk membaca database natif ISIS. Untuk mengetahui lebih banyak tentang OpenISIS, silahkan kunjungi situsnya di http://www.openisis.org/.
Fitur Igloo antara lain:
• mudah digunakan
• konfigurasi yang sederhana
• mudah dan fleksibel dalam meng-kustom desain dengan sistem template
• mudah dalam menambah database baru
Dimana bisa mendiskusikan igloo lebih lanjut? Informasi terbaru igloo bisa dilihat di http://www.geocities.com/igloo_opensource/
Diskusi via mailing list bisa dilakukan di http://groups.yahoo.com/group/ics-isis. ICS-ISIS merupakan forum diskusi tentang segala sesuatu yang terkait dengan ISIS. Berbahasa Indonesia tetapi silahkan melontarkan pertanyaan berbahasa Inggris. Tentang Igloo dapat dilihat di http://igloo-opensource.dyndns.orgIgloo dapat di-downlaod di http://igloo-opensource.dyndns.org/download/igloo/


Apa itu X-Igloo?
X-Igloo adalah Igloo yang ditambahkan kemampuan untuk melakukan transaksi seperti peminjaman koleksi dan keanggotaan. Karena keterbatasan PHP-OpenISIS, maka data yang terkait dengan transaksi disimpan di database MySQL ( www.mysql.com). Sama dengan Igloo, informasi terbaru X-Igloo bisa dilihat di website http://igloo-opensource.dyndns.org. Diskusi via mailing list bisa dilakukan di http://groups.yahoo.com/group/ics-isis .
Baik Igloo maupun X-Igloo dikembangkan bersama komunitas pemakainya dengan developer utama: Arie Nugraha ( dicarve@yahoo.com), Hendro Wicaksono ( hendrowicaksono@yahoo.com) dan Wardiyono (wynerst@indo.net.id).


Apa itu KopiManis?
Kopimanis merupakan bundel software berbasis XAMPP untuk infrastruktur scripting language (PHP), web (Apache) dan database server (MySQL). Untuk informasi lebih detail mengenai XAMPP silahkan akses http://www.apachefriends.org/en/xampp.html. KopiManis didesain agar pustakawan tidak kesulitan lagi dalam menginstal ragam aplikasi perpustakaan yang terkadang kriptik. Tinggal ekstrak paket, dan langsung pakai.
Sampai dengan versi 2.0.1, paket KopiManis sudah menyertakan:PHPMyLibrary ( www.phpmylibrary.org)OpenBiblio ( http://obiblio.sourceforge.net) Igloo dan X-Igloo ( http://igloo-opensource.dyndns.org)KnowledgeTree ( http://www.knowledgetree.com/)
Paket KopiManis 1.0, bisa didownload di


Apa itu OpenBiblio?
OpenBiblio adalah aplikasi otomasi perpustakaan berbasis web (PHP dan MySQL). Modul-modul yang tersedia antara lain: OPAC, sirkulasi, pengatalogan, administrasi staf, keanggotaan dan report. Informasi lebih detail bisa lihat di http://obiblio.sourceforge.net/


Apa itu PhpMyLibrary?
Hampir sama dengan OpenBiblio, PhpMyLibrary adalah aplikasi otomasi perpustakaan berbasis web (PHP dan MySQL). Modul-modul yang tersedia antara lain: OPAC, sirkulasi, pengatalogan, administrasi staf, keanggotaan, report dan fitur export-import yang compliant dengan standar USMARC. Informasi lebih detail bisa lihat di http://www.phpmylibrary.org/


Apa itu KnowledgeTree?
KnowledgeTree adalah aplikasi dokumen manajemen yang memudahkan untuk berbagi, tracking, dan mengatur dokumen secara aman. KnowledgeTree juga menyedia API berbasis Web Services (XML). Sehingga memudahkan buat para developer lain membangun aplikasi memanfaatkan data yang ada di KnowledgeTree.
Fitur KnowledgeTree antara lain:
Repositori dokumen terpusat dengan kontrol versi dokumen.
Fleksibilitas dalam manajemen metadata dan versioning.
Management kepengarangan dan workflow.
Pengindeksan full-text dokumen.
Model distribusi akses dan keamanan berbasiskan group.
KnowledgeTree juga bisa digunakan untuk melindungi dokumen dari serangan virus karena dokumen yang disimpan didalamnya di enkripsi.
Untuk detail lebih lanjut tentang KnowledgeTree silahkan akses ke http://www.knowledgetree.com/.

Senin, 03 Desember 2007

MERINTIS OTOMASI PERPUSTAKAAN MADRASAH

MERINTIS OTOMASI PERPUSTAKAAN MADRASAH:
Kerangka Pengembangan Model Pengelolaan Database Perpustakaan Madrasah Berbasis Microsoft Access
-------------
OLEH:
ADE ABDUL HAK


Pendahuluan
Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di bidang nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara kaffah (menyeluruh). Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan” pada tanggal 2 Mei 2002; dan lebih berfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-Undang Sisdiknas (2003) bahwa tujuan pendidikan nasional adalah …untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (E. Mulyasa, 2003:29).
Pada masa krisis ekonomi yang melanda Indonesia telah banyak menyebabkan terjadinya pembatalan program-program pembangunan, baik yang telah direncanakan, bahkan program-program yang tengah berjalan. Hal ini juga tidak dapat dielakan dalam program-program peningkatan mutu pendidikan, terutama masalah pengembangan perpustakaan. Padahal keberadaan perpustakaan bagi sebuah lembaga pendidikan merupakan suatu keharusan. Ahmad Saefudin (1999; 10) menyatakan bahwa di dunia Barat perpustakaan dianggap sebagai suatu bagian yang penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka bahkan ada yang berpendapat sebagai lambang kesuksesan kerja suatu instansi atau organisasi, di Indonesia pada saat ini masih jarang yang berpendapat seperti itu.
Rendahnya tingkat apresiasi tersebut juga merupakan penyebab yang memposisikan perpustakaan dan pustakawan yang ada di lembaga pendidikan, terutama di tingkat pendidikan dasar dan menengah, tidak mampu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Sebenarnya peranan mereka dalam menentukan kualitas pendidikan , tidak diragukan, sangat strategis sekali. Banyak di negara maju dan beberapa negara berkembang lainnya yang telah sadar benar tentang pentingnya peran perpustakaan dan pustakawan telah benar-benar merasakan terhadap manfaatnya perpustakaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi para pelajar maupun mahasiswa hingga tenaga pengajarnya (Pungki Purnomo, 2000; 130).
Ketertinggalan dan keprihatinan kita terhadap kualitas pendidikan di tanah air bila dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya merupakan keprihatinan yang sangat serius karena berkaitan dengan masa depan anak bangsa kita ditengah persaingan global. Kadang persoalan perpustakaan sangatlah komplek, mulai dari persoalan dana, sumber daya manusia, birokrasi dan lain-lainnya, yang semua itu bisa membuat para pustakawan merasa putus asa dan tidak antusias lagi terhadap pekerjaannya.
Terlepas dari permasalahan di atas, para pengelola perpustakaan tidak bisa hanya mengeluh, contohnya dalam proses rutinitas pengelolaan sistem manajemen perpustakaan yang cukup membosankan. Perkembangan teknologi informasi, terutama dalan dunia komputer, sedikit tidak telah banyak membantu mengurangi kejenuhan, dan tentunya untuk meningkatkan kualitas kerja para pustakawan di era informasi ini. Untuk keperluan pengelolaan basis data perpustakaan, telah banyak beredar perangkat keras dan perangkat lunak yang bisa didapatkan dengan mudah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mencari solusi yang paling praktis dan hemat menggunakan perangkat teknologi yang sudah dimiliki ini untuk pengelolaan database perpustakaan secara optimal.

Database Berbasis Microsoft Access
Mengapa database berbasis Microsoft Access? Ini adalah salah satu pertanyaan yang mungkin muncul dibenak kita. Microsoft Access merupakan salah satu program pengolah database yang canggih, yang digunakan untuk mengolah berbagai jenis data dengan pengoperasian yang mudah (LPKBM Madcoms, 2001; 3)
Banyak kemudahan yang akan kita peroleh jika bekerja dengan Microsoft Access, selain mudah menemukan perangkat lunak ini, karena satu paket dalam program applikasi Microsoft Office yang bisa didapatkan ketika membeli perangkat komputer “built up” (sudah ada legalitas pemasangannya), kita dapat dengan mudah melakukan penyortiran, pengaturan data, pembuatan label dan serta pembuatan laporan kegiatan sehari-hari lainnya.
Evan Callahan (2000; xiii) menyatakan bahwa Access telah mengagetkan dunia database dengan kemudahan penggunaannya untuk menyimpan dan mengambil informasi. ... access juga mungkin adalah aplikasi yang paling produktif untuk membuat aplikasi database.
Secara sederhana database ( basis data ) dapat diungkapkan sebagai suatu pengor-ganisasian data dengan bantuan komputer yang memungkinkan data dapat diakses dengan mudah dan cepat. Dalam hal ini, pengertian akses dapat mencakup persoalan data maupun pemanipulasian data seperti menambah serta menghapus data ( Abdul Kadir, 2003; 2).
Lebih jauh lagi Abdul Kadir (2003; 3) mengatakan bahwa Microsoft Access merupakan salah satu contoh produk RDBMS (Relational Database Management System) yang sangat populer di lingkungan Windows. Perangkat lunak ini menyediakan fasilitas yang memudahkan dalam mengelola database, melakukan query, membuat form, membuat laporan, dan lain-lain.
Microsoft Access selalu mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan aplikasi Microsoft Office, dari mulai versi 3.1 sampai makalah ini di buat Microsoft Access telah mengalami beberapa perkembangan hingga sekarang dengan nama Microsoft Access 2003 atau yang lebih dikenal dengan Office 2003-nya. Pemakai program Microsoft Access dapat saling tukar data antar sesama aplikasi karena didukung oleh teknologi Object Linking and Embedding (LPKBM Madcoms, 2001; iii)
Dalam proses pembuatan database, kita akan mengenal beberapa tipe data yang terdapat pada Microsoft Access. Tipe-tipe data itu dapat kita lihat pada tabel berikut ini.

Tipe Data
Keterangan
Ukuran
Teks
Merupakan tipe bawaan yang akan dipilihkan oleh Microsoft Access ketika suatu field baru diciptakan. Tipe ini digunakan untuk menyatakan teks atau data yang bisa mengandung huruf, angka dan karakter-karakter yang lain seperti tanda * dan &. Contoh pemakaiannya antara lain untuk nama orang, alamat, dan bahkan angka yang tidak dimaksudkan untuk hitung (misalnya nomor telepon)
Maksimal terdiri atas 225 karakter.
Memo
Merupakan tipe data teks yang berukuran besar.
Dapat mencapai 65.535 karakter
Number
Merupakan tipe data untuk suatu nilai bilangan yang bisa dihitung. Ada bermacam-macam pilihan lebih lanjut untuk nilai ini.
1,2,3,8 atau 16byte tergantung tipenya.
Date/Time
Nilai jam dan tanggal dimulai dari tahun 100 sampai 9999
8 byte
Currency
Merupakan tipe data untuk nilai uang. Keakuratan sampai 15 digit di sebelah kiri tanda pecahan dan 4 digit disebelah kanan tanda pecahan.
8 byte
AutoNumber
Menyatakan nilai yang urut. Nilai dibangkitkan oleh Microsoft Access dan tak dapat diubah oleh pemakai.
4 byte.
Yes/No
Menyatakan data yang hanya memiliki dua kemungkinan saja. Contoh benar atau salah, pria atau wanita
1 bit
OLE Object
Menyatakan data objek seperti lembar kerja Excel, dokumen Word yang dihubungkan atau dilekatkan ke Microsoft Access.
Samapai 1 gigabyte
Hyperlink
Menyatakan data alamat hyperlink (misalnya digunakan sebagai alamat Web atau untuk melompat ke Word)
Sampai 2048 karakter.
Lookup Wizard
Memungkinkan berhubungan dengan nilai pada tabel lain melalui fasilitas kotak daftar (list box) atau kotak kombo (combo box).
Biasanya 4 byte.

Sebagai contoh, jika kita bermaksud membuat field bernama Judul, maka tipe data yang perlu digunakan adalah Text, tetapi jika kita bermaksud membuat field Abstrak buku, perlu menggunakan tipe Memo, karena tipe ini memungkinkan efesiensi jumlah karakter yang tidak terpakai bila kita menggunakan tipe Text.

Model Pengembangan Database Perpustakaan
Untuk mengembangkan model database perpustakaan, kita bisa merujuk kepada beberapa standar yang bisa mewakili beberapa cantuman sesuai dengan peraturan pengatalogan (AACR2), diantaranya INDOMARC atau DUBLIN CORE. Selanjutnya adalah bagaimana menerjemahkan konsep-konsep dasar tersebut ke dalam tabel yang kita butuhkan. Sekali lagi yang perlu kita ingat adalah model database Microsfot Acces bisa menguhungkan (relationship) antar tabel, sehingga hal ini akan mempermudah proses pengolahan data selanjutnya.
Sebagai contoh, kita dapat melihat beberapa tabel berikut hubungannya di bawah ini.
Tabel di atas terdiri dari tabel Kepengarangan; tabel Penerbit; tabel Subyek; tabel Judul; tabel Buku_Induk; tabel Peminjaman; dan tabel Anggota.
Sebagai gambaran, tabel Judul mempunyai hubungan dengan beberapa tabel, salah satu di antaranya adalah tabel Kepengarangan, artinya ketika tabel judul membutuhkan data pengarang ,pengguna bisa dengan mudah memilih pengarang dari tabel kepengarangan dengan menggunakan fasilitas combo di tabel judul. Demikian seterusnya dengan tabel-tabel lainnya yang saling berhubungan.
Kemudian dari tabel-tabel yang kita buat tadi, kita bisa memanfaatkan fasilitas Form untuk memudahkan pemasukan data. Berikut ini beberapa contoh form dan report yang di buat dari tabel tersebut.
Form 1. Form ini merupakan menu utama sebagai pintu gerbang untuk aplikasi Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan yang terdiri dari menu Administrasi, Pengolahan, Sirkulasi, Penelusuran, Backup Data, dan Keluar Program.
Form 2. Form yang merupakan bagian tugas dari bagian pengadaan. Form ini berisi format isian untuk input penerimaan data buku baru, dengan format ini kita bisa mencari langsung apakah judul buku yang masuk itu sudah ada atau belum, jika sudah ada tinggal menambahkan nomor induk untuk copy baru tersebut, tapi kalau memang belum ada petugas harus memasukan data buku tersebut dengan beberapa kemudahan karena format ini dirancang semudah mungkin, yaitu bisa digunakan oleh operator atau pustakawan yang tidak begitu mahir dalam bidang komputer.

Form 3 adalah form untuk pengolahan (katalogisasi). Format dalam form ini akan memudahkan pengguna untuk menginput data. Subyek yang dibutuhkan tinggal dipilih dari fasilitas combo, sehingga kontrol untuk format subyek dan kelas akan lebih mudah dilaksanakan. Selain itu, data untuk Judul, Pengarang, dan Penerbit, tidak perlu diinput lagi di sini karena sudah ditransfer secara langsung dari bagian pengadaan. Selanjutnya tinggal mengisikan data ciri-ciri fisik, kategori buku, dan ringkasan buku. Dari form ini pula kita bisa langsung mencetak label buku yang diperlukan, seperti contoh di samping ini. Label ini langsung dapat dicetak karena sudah direlasikan secara khusus untuk tiap-tiap judul buku secara mandiri, dan akan ditampilkan terlebih dahulu dengan menggunakan fasilitas report.
Model pengembangan berikutnya adalah bagaimana kita bisa mengunakan fasilitas query dari tabel-tabel tersebut. Contoh di bawah ini adalah query untuk katalog atau pencarian informasi untuk data-data yang sudah kita masukan ke dalam database. Dengan fasilitas query ini, kita dapat dengan mudah mendesain pola-pola pencarian data sesuai dengan kebutuhan.
1
2




4
3





Gambar 1, menunjukan pemilihan item (field) dari beberapa tabel yang ada, dan hasilnya hanya akan memunculkan informasi yang dibutuhkan di dalam katalog seperti pada gambar 4. Sebelum sampai ke tampilan gambar 4 tadi, penguna disediakan terlebih dahulu beberapa kemungkinan alternatif pencarian, apakah lewat pencarian kepengarangan, judul, subyek, atau kelas, seperti pada gambar 2 dan 3. Dalam hal ini, kita diharuskan membuat beberapa form tersebut dengan menggunakan fasilitas tabel, query, dan form. Lebih jauh lagi, jika database kita mencakup beberapa jenis koleksi, maka untuk menu katalog harus dibuatkan dengan beberapa alternatif pangkalan data, seperti contoh gambar ini.
Selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan Microssft Acces ini untuk proses sirkulasi. Kita bisa membuat form sirkulasi dengan mengunakan fasilitas subform yang disediakan Access. Dengan fasilitas subform ini, kita bisa menampilkan data anggota dan data buku pinjaman dalam satu form saja, sehingga hal ini akan lebih memudahkan pengontrolan bagi petugas sirkulasi, ketika melayani proses peminjaman dan pengembalian buku. Dengan form ini pula kita bisa melihat berapa jumlah buku yang dipinjam sekaligus data tentang tanggal pengembalian dan jumlah denda yang harus dibayar oleh pengguna tersebut bila terlambat mengembalikan pinjamannya.
Satu lagi yang tak kalah pentingnya adalah fasilitas Chart Wizard. Dengan menggunakan fasilitas ini kita dapat secara otomatis membuat statistik berbagai macam kebutuhan yang diperlukan dalam pengelolaan data-data perpustakaan. Sebagai contoh, ini adalah statistik untuk mengetahui jumlah anggota dari tiap jurusan berdasarkan jenis kelamin.

Penutup
Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa dengan kemauan dan kemajuan teknologi komputer sekarang ini, penggunaan komputer sudah sedemikian mudahnya, komputer tidak hanya digunakan oleh para progammer saja, tetapai para pustakawan pun bisa memanfaatkan. Berdasarkan fakta ini, maka sudah saatnya para pustakawan yang ada di lembaga pendidikan memanfaatkan penggunaan komputer yang tersedia secara optimal dalam pengelolaan basis data perpustakaannya.
Pengembangan database perpustakaan, salah satunya dengan menggunakan Microsoft Access, akan mengatasi beberapa masalah seperti redudansi dan inkonsistensi data, kesulitan pengaksesan data, isolasi data untuk standarisasi, multiple user, masalah integrasi, dan masalah keamanan data dengan tampilan yang cukup menarik. Tentunya semua usaha itu diusahakan demi kemajuan dan mengangkat citra perpustakaan dan pustakawan yang ada di lembaga pendidikan itu sendiri.

Buku Rujukan

Abdul Kadir.( 2003). Penuntun praktis belajar database menggunakan microsfot access. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Callahan, Evan. (2000). Peranti untuk belajar sendiri microsoft access 2000: visual basic for application fundamentals. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Purnomo, Pungki. (2000). Era otonomi pendidikan: saat tepat untuk mereposisi peran perpustakaan di dunia pendidikan, Al-Maktabah. Vol.2.,No.2. (Oktober 2000), hal. 129-136.
LPKBM Madcom. (2001). Panduan lengkap microsoft access 2000. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Mulyasa, E.( 2003). Manajemen berbasis madrasah, INOVASI Kurikulum. Edisi IV (Tahun 2003), hal. 29-35.
Saefudin, Ahmad. (1999). Pemanfaatan sumber informasi elektronik di internet oleh perpustakaan, BACA. Vol.24, No.3-4 (Sep-Des. 1999), hal. 10-12.











“Where there is a will, there is a way.”

ANALISIS KEBUTUHAN SUMBER INFORMASI

ANALISIS KEBUTUHAN SUMBER INFORMASI
DI PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI “SYAHID” JAKARTA


A. Latar Belakakang

Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa perpustakaan sebagai tempat penyimpanan buku, dokumen, atau koleksi karya tulis pada suatu lembaga atau institusi. Umumnya, kualitas perpustakaan tidak diunggulkan dibandingkan dengan lembaga informasi lainnya, baik ditinjau dari aspek administrasi, kurikulum, sistem pengajaran maupun fasilitasnya. Tidak jarang masyarakat biasa bahkan masyarakat akademik beranggapan bahwa perpustakaan adalah hanya sebagai gudang buku, tempat pembaca yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan masyarakat yang makin meningkat pada era informasi ini.

Dengan adanya pernyataan di atas banyak kalangan akademik lebih cenderung untuk menyediakan sarana perpustakaan sebagai pelengkap akreditasi lembaga tersebut secara administrasi saja. Fungsi perpustakaan sebagai jantungnya lembaga pendidikan tinggi yang menyediakan sumber informasi untuk bahan perkuliahan tidak diperdayakan secara efektif dan efesien.

Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi (ICT) yang begitu mendesak telah mentrasformasikan konsep pendidikan berbasis komputer (Computer-Based Education) menjadi menjadi pendidikan berbasis teknologi informasi, internet, dan intranet. Perkembangan tersebut telah membuat beberapa kebijakan pengadaan bahan pustaka (sumber informasi) tidak sebatas mengadakan bahan buku saja, tetapi sudah merambah ke bahan-bahan yang sifatnya elektronik. ICT menjadi alat yang benar-benar mampu memberdayakan proses belajar mengajar menjadi lebih kreatif dan kompetetif.

Namun dalam kenyataan sehari-hari, fakta pun berbicara lain. Ternyata kehadiran, majalah dan media cetak lainnya tidak dapat ditinggalkan begitu saja atau dapat diganti dengan media elektronik berbasis ICT ini. Dengan demikian perpustakaan sebagai pusat sumber informasi sangat berperan sekali dalam menentukan sumber-sumber informasi apa saja yang dibutuhkan oleh penggunanya. Dalam hal ini perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan harus mampu menyeleksi bahan yang dibutuhkan oleh para penggunanya dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimilikinya. Sebagaimana tercantum dalam buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi bahwa kebijakan pengembangan koleksi hendanya selalu dapat mencerminkan fungsi perpustakaan sebagai penunjang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat ( PP. No. 30, Thn. 1990, Pasal 34).

B. Tujuan Analisis

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan para pengguna perpustakaan terhadap sumber informasi (bahan koleksi perpustakaan) sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

C. Metodologi

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, metode yang digunakan adalah survey, yang dilaksanakan kurang lebih selama satu minggu dari sejak tugas ini dikeluarkan, yaitu dari tanggal 18 -24 Maret 2005 di lingkungan perpustakaan FITK dengan mengambil sampel sebanyak 100 orang, dan memberikan angket isian yang dipilih secara acak terhadap para pengguna yang aktif. Data yang diperoleh dari kegiatan tersebut kemudian dianalisis secara deskriftif.

D. Alat Survey

Dalam pelaksanaan survey ini, perpustakaan mencoba mengajukan beberapa pertanyaan isian ringkas (angket) dengan beberapa pilihan (isian) kepada para pengguna, sebagai berikut:

Kegiatan utama Anda di perpustakaan FITK adalah...
Mencari informasi
Mencari bahan bacaan perkuliahan
Diskusi/belajar
Kegiatan lain
Sumber-sumber informasi mana yang Anda ketahui untuk dapat dimanfaatkan di perpustakaan FITK? (Pilihan dapat lebih dari satu)
Buku
Koran
Majalah
Karya tulis
CD-ROM
Internet
Sumber informasi mana saja yang Anda butuhkan untuk bahan perkuliahan Anda? (Pilihan dapat lebih dari satu)
Buku
Koran
Majalah
Karya tulis
CD-ROM
Internet
Apakah setiap pencarian buku selama ini sudah memenuhi bahan perkuliahan Anda?
Ya. Semua mata kuliah, dan didapat dengan mudah
Ya. Semua mata kuliah, tapi sudah dipinjam oleh pengguna lain.
Hanya sebagian mata kuliah, dan didapat dengan mudah
Hanya sebagian mata kuliah, tapi sudah dipinjam oleh pengguna lain.
Tidak sama sekali.
Apakah menurut Anda koleksi koran yang ada di perpustakaan sudah mewakili koran-koran lainnya?
Sangat mewakili
Cukup mewakili
Tidak tahu
Kurang mewakili
Sangat tidak mewakili
Apakah menurut Anda majalah dapat digunakan sebagai bahan penunjang perkuliahan?
Sangat menunjang
Cukup menunjang
Tidak tahu
Kurang menunjang
Sangat tidak menunjang
Bagaimana pendapat Anda tentang sumber informasi berupa CD-ROM?
Diperlukan dan pernah menggunakannya
Diperlukan tapi belum pernah menggunakannya
Tidak diperlukan karena tidak tahu penggunaannya
Tidak diperlukan sama sekali
Bagaimana pendapat Anda tentang sumber informasi dari Internet?
Diperlukan dan pernah menggunakannya
Diperlukan tapi belum pernah menggunakannya
Tidak diperlukan karena tidak tahu penggunaannya
Tidak diperlukan sama sekali

E. Perolehan dan Analisa Data

Darin hasil penyebaran daftar pertanyaan (angket) yang diajukan pada para pengguna ternyata dapat kembali sekitar 94%. Sehingga dengan demikian data yang telah terkumpul dianggap cukup mewakili.

Untuk melihat gambaran tujuan kedatangan mereka ke perpustakaan, dapat dilihat dari hasil perolehan data dari pertanyaan no. 1 pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Tujuan pengguna datang ke perpustakaan.
No.
Pilihan Jawaban
Frekwensi
%
Keterangan
1.
Mencari informasi
27
28,7
94 responden
2.
Mencari bahan bacaan perkuliahan

51
54,2

3.
Diskusi/Belajar
12
12,8

4.
Kegiatan lain
4
4,3


Jumlah
94
100


Dari tabel di atas kita mendapat gambaran bahwa tujuan atau kegiatan utama para pengguna pergi ke perpustakaan adalah mencari sumber informasi, yaitu berupa bahan bacaan perkuliahan sekitar 54,2 % dan informasi lainnya 28,7%. Sementara kegiatan di luar itu hanya sekitar 17,1%. Hal ini menunjukan bahwa para pengguna yang ada di lingkungan FITK telah mempunyai kesadaran tentang pentingnya peranan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar dimana di dalamnya didaptkan berbagai macam informasi.

Untuk mengetahui gambaran sumber informasi apa saja yang sudah meraka ketahui dan dibutuhkan oleh para pengguna sesuai dengan jenis sumber informasi di perpustakaan FITK dapat dilihat pada tabel 2 dan 3 berikut ini, sebagai hasil jawaban dari para pengguna untuk pertanyaan nomor 2 dan 3.

Tabel 2. Sumber informasi yang diketahui pengguna.
No.
Pilihan Jawaban
Frekwensi
%
Keterangan
1.
Buku
93
98,9
94 responden
2.
Karya Tulis

80
85,1

3.
Majalah
81
86,1

4.
CD-ROM
21
19,0

5.
File Komputer/Internet
36
38,3

6.
Koran
75
79,8


Tabel 3. Kebutuhan sumber informasi pengguna.
No.
Pilihan Jawaban
Frekwensi
%
Keterangan
1.
Buku
93
98,9
94 responden
2.
Karya Tulis

66
70,2

3.
Majalah
83
88,3

4.
CD-ROM
81
86,1

5.
File Komputer/Internet
93
98,1

6.
Koran
45
47,8


Hasil analisa dari kedua
1. Antara kebutuhan jenis sumber informasi berupa buku dengan pengetahuan pengguna akan sumber tersebut angka pilihan bebasnya cukup tinggi, hampir semua koresponden dari yang berhasil dikumpulkan memilihnya, dengan demikian jenis koleksi buku tetap masih menempati posisi paling atas untuk tetap dikembangkan.
2. Antara kebutuhan jenis sumber informasi karya tulis dengan pengetahuan pemakai akan sumber ini, tidak terlalu jauh berbeda dengan buku, namuna pada tingkat kebutuhannya ada penerunan yang cukup signifikan.
3. Untuk jenis koleksi majalah antara pengetahuan dan kebutuhan masih seimbang dan cukup tinggi.
4. Pada jenis koleksi CD-ROM terdapat perbedaan yang cukup tajam, dimana posisi kebutuhan termasuk cukup tinggi walaupun pengetahuan mereka tetang itu masih rendah.
5. Begitu juga dengan penggunaan koleksi file komputer (Internet), kasusnya hampi sama dengan jenis koleksi CD-ROM.
6. Terakhir, antara kebutuhan jenis sumber informasi koran dengan kebutuhan pemakai terdapat perbedaan yang cukup menyolok juga, namun jumlah angka kebutuhan lebih kecil dari angka pengetahuan pengguna.

Sementara itu gambaran perolehan informasi oleh pengguna terhadap koleksi buku yang sudah ada, dapat dilihat dari kegiatan pencarian mereka dalam memenuhi bahan perkuliahan ( lihat tabel 4 ).

Tabel 4. Gambaran Pemenuhan Kebutuhan Buku.
No.
Pilihan Jawaban
Frekwensi
%
Keterangan
1.
Ya. Semua mata kuliah, dan didapat dengan mudah
1
1,1
94 responden
2.
Ya. Semua mata kuliah, tapi sudah dipinjam oleh pengguna lain.
5
5,3

3.
Hanya sebagian mata kuliah, dan didapat dengan mudah
5
5,3

4.
Hanya sebagian mata kuliah, tapi sudah dipinjam oleh pengguna lain.
83
88,3

5.
Tidak sama sekali.
0
0


Jumlah
94
100


Dari perolehan data kuesiner yang diajukan kepada para pengguna, menunjukan bahwa 88,3% pengguna masih kesulitan dalam mendapatkan bahan buku untuk kegiatan perkulihannya. Hal ini disebabkan karena selain hanya sebagian mata kuliah yang terpenuhi, buku tersebut sudah dipinjam oleh pengguna lain (jumlah eksemplar terbatas).

Selanjutnya untuk melihat sejauh mana pendapat mereka tentang jenis koleksi koran dan majalah yang dimiliki perpustakaan FITK, dapat digambarkan dari pertanyaan no. 5 dan 6 dengan hasil perolehan data yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 5. Gambaran Pemenuhan Kebutuhan Koran
No.
Pilihan Jawaban
Frekwensi
%
Keterangan
1.
Sangat mewakili
1
1,1
94 responden
2.
Cukup mewakili
83
88,3

3.
Tidak tahu
5
5,3

4.
Kurang mewakili.
5
5,3

5.
Sangat tidak mewakili
0
0


Jumlah
94
100